Tak ada angin tiada hujan, wajah Galih terlihat berninar-binar.
Dengan senyum yang melebar Ia terus memandangi Ratna. Sampai suatu ketika sang
Guru marah karena Galih cuek pada pelajaran. Ciuuuuwwwww ... spidol pun terbang
ke arah Galih, dan mendarat tajam di jidatnya. Ia tersadar, namun masih
senyum-senyum nggak jelas. Dari pagi saat datang sampai saat siang Ia terus
memandangi Ratna. Gadis imut yang satu ini mungkin sebenarnya juga membalas,
hanya saja mungkin Ia malu untuk mengakuinya.
“Kalau emang suka, bilang aja Bro..!!”, kata Bashofi seorang teman
Galih. “Ehm...... nggak ah,, aku takut dia sok-sok’an nolak..!!”, jawab Galih
pesimis. “Lho,, bukannya loe juga tau kalau dia juga suka sama loe??”, sahut
Nasrudin. Galih membisu. Tiba-tiba Muslimin datang membawa koran dengan halaman
depan yang bergambar iklan Dukun Cinta. “Nih solusinya,, cinta ditolak, dukun
bertindak..!!”, kata muslimin sambil menahan tawa. Melihat iklan tersebut,
Bashofi dan Nasrudin tertawa lepas, hingga teman-teman satu kelas
terheran-heran. Hanya Galih yang nampak bimbang.
Setelah akhirnya bisa diam, mereka saling memandang. “Gimana
Bro?!”, tanya Nasrudin pada Galih. Sepertinya Galih masih ragu, kemudian
merekapun berdiskusi menyusun tak-tik penembakan yang jitu. Anak-anak bandel
itu bertukar pendapat layaknya para ahli biologi. Eittss.., jangan salah, yang
dibahas bukan tentang komponen biotik maupun abiotik, melainkan bagaimana cara
agar si Ratna bisa menerima cintanya Galih.
2,3 hari berlalu, Galih masih sibuk dengan persiapan mentalnya.
“Huuhh...,, gue harus bisa!!, harus bisa..!!”, kata Galih dalam hati. Ia
rupanya masih belum siap juga. Berhari-hari Ia berpuasa untuk membangun
keberanian. Saat tiba waktu yang tepat Galih pun membulatkan tekad,
keinginannya kali ini tak bisa terbendung.
Cowok yang katanya pria sejati ini tak luput dari godaan iblis-iblis
nakal. Teman-teman Galih berusaha memberi isyarat bahwa Galih akan melepas
panah cintanya pada Ratna. “Ciye..ciyee..!!”, sorak cowok-cowok kelas XII IPS.
Galih menjadi sangat kesal. Untung saja imannya kali ini tak tergoyahkan.
Ternyata Ia berani mengejar Ratna yang terus lari saat melihat sosok cowok yang
mirip Aldi Coboy Junior itu.
“Ratna ke toilet Bro...!!”, kata Nasrudin. Tanpa pikir panjang
Galih lekas menyusul cintanya. Ratna yang sedang bercanda dengan adik kelasnya
tidak mengetahui bahwa Galih
membuntutinya.
“Odennya Nia..!!”, teriak Ratna dan Winda. Lalu, bruuukk..!! Ratna
bertabrakan dengan Galih. “Auuuwwhh,,,. Maaf, aku sengaja..!!, kata Ratna.
Galih pun terheran-heran, “Haahhh,,?!?!?!?”. Ratna pun langsung mengedit
ucapannya, “Maksudnya , aku nggak sengaja..!!”. Ratna yang nggak ngerasa
bersalah itu langsung kabur dan masuk ke kelas. Rupanya Ratna tidak bisa diam,
Ia terus berkejaran sambil membawa alat pukul untuk Winda. Lagi-lagi si Galih
muncul dan,,, plaaaakkk..!!, tongkat penggaris yang tebal mengenai wajah cowok
yang 50% ganteng itu. Melihat sang Galih kesakitan, Ratna kabur lagi. Tak
berhenti sampai disitu. Ia melempar sapu yang tujuan awalnya pada Winda, eh
malah menukik ke arah Galih lagi. Kelas XII pun heboh, semua terbahak-bahak
melihat insiden itu.
“Arrrgggghhh,,,, dari dulu emang beginilah cinta, deritanya tiada
akhir..!!”, kata Galih dengan suara agak merengek.
|
Cerita ini hanya
fiktif belaka,
apabila ada kesamaan
nama, tempat atau kejadian
semuanya hanya
kebetulan semata
|